banner logo pinterduit

Login / Register MENU


Art And Creativity, Business And Finance, Car And Automotive, Computer And Hardware, Dating And Relationship, Forum And Community, Funny And Jokes, Game And Movie, Health And Diet, Investment And Property, Kids And Family, Kitchen And Cooking, Media And Journal, Mystery And Supranatural, News And Politics, Pet And Animal, Plant And Nature, Religion And Spiritual, Sales And Marketing, Science And Education, Software And Programming, Sport And Football, Technology And Internet, Tools And Gardening, Travel And Holiday, Uncategorized,




       
                   
   



Home » Mystery And Supranatural » Peti Mati Berselancar Diatas Air Sungai | Kisah Mistis Suku Dayak Kalimantan



logo pinterduit

Peti Mati Berselancar Diatas Air Sungai | Kisah Mistis Suku Dayak Kalimantan

Rating : 0/5 , Author : Menuju Hidup Lebih Baik , Topic : Mystery And Supranatural, Date : 2020/05/15 21:41,Views: 4, Like : 0 , Dislike : 0


Menuju Hidup Lebih Baik

Menuju Hidup Lebih Baik

1 Followers
Follow

Hello !! I'm new writer
Alltime views: 100, Total published post: 24
User ID : 66d439e2076c10c072d021248362b397

[more content from this user]


Pinterduit.com - Di jaman Kesah atau jaman keempat di dalam kehidupan suku Dayak Dohoi Uut Danum, terdapat sebuah kisah tentang peti mati yang berselancar diatas air sungai. Kisahnya begini. Pada waktu itu ada kematian di sebuah kampung. Seperti kebiasaan masyarakat Dohoi pada jaman itu dan sampai sekarang pun, mereka membuat sebuah Duni’atau peti mati dari kayu untuk orang yang meninggal dunia. Secara berombongan mereka berangkat menggunakan perahu ke arah hulu untuk mencari kayu di pinggir sungai yang layak untuk dijadikan peti mati. Sungai adalah transportasi utama di pulau Kalimantan, bahkan sampai hari ini pun masih banyak daerah yang belum terjangkau jalan darat. Segala persiapan acara adat mereka lakukan sebelum berangkat dan juga ditempat mereka mencari kayu yang cocok untuk Duni’, dengan menyembelih babi dan ayam untuk “mohpasch”dan “nyahki’” dengan melantunkan kandan adat atau marung adat. Mereka memperhatikan kayu-kayu yang memang banyak di sepanjang sisi sungai. Akhirnya sebuah kayu jenis Kocuhui mereka pilih untuk Duni’itu, kayunya keras, lurus dan besarnya kurang lebih lima jengkal lebih besar dari sepemelukan orang dewasa. Duni’atau peti mati itu mereka buat sesuai dengan ketentuan adat, misalnya salah dibagian kepala dibuat bentukan seperti seekor anjing, yang konon katanya akan memberikan petunjuk arah bagi arwah agar tidak tersesat ke dalam sejenis neraka nantinya. Kurang lebih setengah hari, Duni’atau peti mati itupun selesailah. Duni’yang telah dibuat itu memang cantik dan hasil pengerjaannya sungguh halus. Entah bagaimana, salah satu dari anak-anak muda yang ada di situ menyeletuk, bagaimana ya kalau kita coba masuk ke dalam sana. Apakah muat, katanya. “Jangan!” Cegah beberapa orang yang sudah cukup tua diantara mereka. “jangan macam-macam, karena Duni’ini tadi sudah kita buat dengan memenuhi segala persyaratan adat untuk membuat peti mati. Kita tidak tahu, bisa saja terjadi sesuatu yang diluar perkiraan kita.” Tetapi tidak demikian bagi kaum mudanya, mereka tidak terlalu percaya akan hal-hal mistis seperti itu dan juga jiwa muda mereka selalu bergejolak dan rasa ingin tahunya besar sekali. Seseorang anak muda dengan tanpa ragu masuk ke dalam peti mati itu. “Wah. Tubuhku muat,”serunya senang. “Coba kalian angkat Duni’ini ke atas air sungai, apakah tenggelam atau tidak?” Merekapun mengangkat peti mati itu beramai-ramai ke atas air. Ternyata, meskipun ada tubuh orang di situ, Duni’itu tidaklah tenggelam. Ëh, coba kalian pasang tutupnya. Bagai mana rasanya kalau peti ini tertutup.” Serunya lagi dengan penuh antusias. Para orang tua-tua yang ada di situ kembali mencoba melarang mereka. Sebab menurut kebiasaan kuno, manusia hidup tidak boleh masuk ke dalam sebuah peti mati, apalagi ini minta di tutup segala. “Moruai” (rohnya) bisa “moma’” (lemah). Dasar anak-anak muda, pikiran mereka hanya senang-senang belaka, mereka tidak perduli dengan kata-kata para orang tua itu. Mereka bahkan dengan tertawa-tawa mengangkat tutupnya dan memasangnya di Duni’ itu. Selanjutnya hal yang tidak pernah mereka bayangkan pun terjadilah. Begitu Duni’atau peti mati itu ditutup, dari dalam peti mati itu keluar ratusan tangan dari sisi-sisi sambungan kiri-kanan tutup dan bagian bawah peti mati itu dan mendayungnya dengan super cepat. Para orang tua dan anak-anak muda itu terhenyak dan terdiam sebentar, tetapi beberapa detik kemudian dengan reflek mereka meraih dayung dan mendorong perahu-perahu mereka masing-masing serta semuanya langsung mengejar peti mati itu dengan sekuat tenaga. Tetapi kecepatan peti mati itu sungguh diluar nalar, tak lama kemudian Duni’itu sudah lenyap di balik tanjung sungai di bagian hulu. Ketika para pengejar sudah sampai di balik tanjung, sudah tidak ada kelihatan apa-apa lagi di sana selain air sungai yang mengalir seperti biasa dan hembusan angin yang membuat daun-daun kayu dipinggir sungai yang melambai-lambai. Mereka hanya bisa menarik nafas panjang dan bersedih. Para orang tuapun kembali mengingatkan akan keusilan para anak anak muda itu, yang diomeli hanya hanya tertunduk lesu dan malu karena bersalah tidak mau mendengarkan nasihat orangtua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan di dunia. Seperti biasanya, penyesalan itu akan selalu muncul diakhir. Rombongan itupun kembali lagi ke tempat tadi dan mencari kayu baru untuk membuat peti mati baru. Sore hari barulah mereka selesai dan pulang ke rumah dalam keadaan gontai karena kelaparan. Peti mati yang sudah lenyap bersama seorang anak muda usil itupun tidak pernah diketemukan sampai hari ini. Sehingga sampai sekarang, di dalam masyarakat yang empunya cerita ini, mereka tidak berani lagi macam-mcam dengan Duni’atau peti mati, seperti misalnya masuk kedalamnya ataupun berbicara yang jorok atau kotor selama mengerjakannya. Konon katanya, semenjak saat itu, sering peti mati ngirat atau menganggu penduduk setempat dan juga kampung-kampung yang berada sekitarnya. Dari jauh Duni’atau peti mati itu akan berbunyi rrrrrrrrreeeeeettttt….kaaaappp. sebuah bunyi yang sangat keras dan berulang berkali-kali, di mana bunyi rrrrrrreeeeetttttt itu adalah menggambarkan peti mati itu terbuka dan bunyi kaaaaapppp itu menandakan bunyi peti mati tertutup. Jika masyarakat Uut danum mendengar bunyi itu, maka mereka segera tahu bahwa itu adalah hantu peti mati. Sesuai adat, mereka akan mencabut parang mereka, menggigit bagian depan parang di bagian yang tajam sekedarnya sampai tujuh kali sambil mengatakan, “kuuurrruuunnn moruak. Hhuuhh, mahang umbak umat ihtuh somenget moruak, yam duon lliou duni’tuh ngomoma’moruak.” Yang artinya kurang lebih begini, kurs semangat ku atau roh ku, roh ku akan lebih kuat dari besi parang yang kugigit ini, sehingga hantu peti mati ini tidak mampu membuatku lemah. Hal ini perlu dilakukan, karena kalau roh kita kalah, maka tubuh kita lemah, tidak berdaya, gemetaran, dan akhirnya bisa meninggal di tempat. Catatan: Duni’ : Peti mati, bisa terbuat dari kayu, kulit kayu, tikar atau apa saja sepanjang bisa menyimpan atau minimal bisa membungkus mayat manusia. Kocuhui : Sejenis kayu keras yang biasa tumbuh ditepi sungai. Di musim kemarau, buah kayu ini akan jatuh sambil berputar-putar cantik karena tetiup angin kemarau sebelum menyentuh tanah atau air. Buahnya biasanya dimanfaatkan untuk umpan pancing yang khusus untuk ikan Bata’, sejenis ikan yang sangat suka akan buah kocuhui. Mohpasch : Adalah adat untuk membuang segala kesialan dari tubuh manusia dan juga upaya doa adat agar manusia dilindungi, diberkati dan dihindarkan dari segala mara bahaya. Nyahki’ : Kegiatan menyentuhkan darah ayam dan atau babi ke tubuh manusia dibagian kening, pelipis, telinga, hidung, ujung bibir, dada, tengkuk, bagian belakang tubuh, ujung siku, lutut, tumit belakang dan induk jari kaki. Sambal dilakukan ‘mohpat’ (semacam doa) agar terhindar dari segala sesuatu yang jahat tetapi sebaliknya mendapatkan keselamatan dan keberkahan hidup. Kandan : Bahasa seni tingkat tinggi, tetapi kosa katanya biasanya sebagian besar diganti (tonomallik), sehingga akan benar-benar berbeda dari bahasa sehari-hari, dengan susunan kosakata yang cantik dan irama yang sangat merdu dan intonasi yang sungguh menawan. Marung : Bahasa seni tingkat tinggi dan halus dari bahasa sehari-hari dengan susunan kosakata yang cantik dan irama yang sangat merdu dan intonasi yang sungguh menawan. Morua’ : Morua’: Roh manusia (Kata benda umum). Moruak : Roh ku (orang pertama tunggal) Moruai : Rohnya (orang ketiga tunggal) Moruam: Roh mu (Orang kedua tunggal) Moruan do: Roh mereka (jamak). Moma’ : Lemah dan tak berdaya (roh manusia) Ngirat : Keadaan diganggu oleh hantu manusia ataupun hal-hal yang berkaitan dengan hantu seperti peti mati, kain pembungkus mayat, bau kain baru, bau kemenyan, bau busuk, dll. ***this content was uploaded to pinterduit.com
Like
Dislike


Related Post

  • Tradisi Perang Meriam Karbit di Kota Pontianak
  • Tarian Barongsai, Tradisi Yang Berusia 2.400 tahun
  • Fakta Ilmiah Mengapa Jenang Baning Dapat Menghilangkan Sawan Nganten (Badan Lemas)
  • Siluman Musang | Cerita Rakyat Mistis Suku Dayak Kalimantan
  • Peti Mati Berselancar Diatas Air Sungai | Kisah Mistis Suku Dayak Kalimantan
  • Kuntilanak Melobangi Perahu.
  • 17++ Fakta Didalam Kisah KKN Di Desa Penari Yang Horror
  • Setelah Nyi Roro Kidul, Kini Ada Akik Nyi Blorong
  • Geger, Ditemukan Batu Giok Zaman Purba [Pecinta Batu Akik]
  • Kisah Nyata Pengalaman 3x Melihat Hantu (Pocong, Nenek-Nenek,Genderuwo)



  • Comment



    no comment yet

    Notice



    New User

    andrey, SiA, Menuju Hidup Lebih Baik, Mus wardam, Kevin Iyan Markus, Suryatiningsih, Tulip99, Angelica Advenia Cittadella, Mainseniyormay, Mainseniyormay, Rafi Al Ghifari, asw, Jakwan Al amin, , Shurijal,