banner logo pinterduit

Login / Register MENU


Art And Creativity, Business And Finance, Car And Automotive, Computer And Hardware, Dating And Relationship, Forum And Community, Funny And Jokes, Game And Movie, Health And Diet, Investment And Property, Kids And Family, Kitchen And Cooking, Media And Journal, Mystery And Supranatural, News And Politics, Pet And Animal, Plant And Nature, Religion And Spiritual, Sales And Marketing, Science And Education, Software And Programming, Sport And Football, Technology And Internet, Tools And Gardening, Travel And Holiday, Uncategorized,




       
                   
   



Home » Mystery And Supranatural » Siluman Musang | Cerita Rakyat Mistis Suku Dayak Kalimantan



logo pinterduit

Siluman Musang | Cerita Rakyat Mistis Suku Dayak Kalimantan

Rating : 0/5 , Author : Menuju Hidup Lebih Baik , Topic : Mystery And Supranatural, Date : 2020/05/14 15:19,Views: 4, Like : 0 , Dislike : 0


Menuju Hidup Lebih Baik

Menuju Hidup Lebih Baik

1 Followers
Follow

Hello !! I'm new writer
Alltime views: 102, Total published post: 24
User ID : 66d439e2076c10c072d021248362b397

[more content from this user]


Pinterduit.com - Dikalangan suku Dayak Uut Danum, ada empat jaman dalam sejarah kehidupan dan asal usul mereka. Jaman yang pertama adalah jaman Konyorian Paring Aang (jaman penciptaan alam semesta beserta isinya dan kehidupan awal di alam semesta). Jaman yang kedua adalah jaman Kollimoi (Cerita para orang Uut Danum ketika masih tinggal di langit), jaman yang ketiga adalah jaman Tahtum (jaman kepahlawanan, terutama berkenaan dengan Tambun dan Bungai). Jaman yang ke empat adalah jaman Kesah (kejadian-kejadian setelah jaman ketiga sampai sekarang). Cerita siluman musang ini terjadi di jaman Kesah. Menurut para orang tua, di suatu masa di kalangan suku Dayak Uut Danum di pulau besar Kalimantan, terjadi sebuah kisah nyata tentang seekor siluman musang yang menelan mayat seorang anak lelaki. Kisahnya adalah sebagai berikut. Dikarenakan sakit yang tidak terobati, anak laki-laki itu sudah meninggal pagi harinya, sehingga sesuai dengan adat istiadat suku Dayak Uut Danum di Kalimantan, mereka segera membuatkan Hinou untuknya. Hinou adalah penutup dari kain putih diatas mayat, dengan tinggi sekitar 60 cm sampai 140 cm, berbentuk segi empat seperti kelambu yang dikeempat sudutnya diberi gantungan dari tali panjang dan keempat ujungnya diikatkan ke tiang dan dinding rumah. Kain hinou ini biasanya terdiri dari minimal dua lembar kain yang hanya diletakan saja sehingga menutup keempat sisinya dan mayat di dalamnya tidak tampak dari luar. Hal ini bisa dilakukan demikian karena dulunya rumah rumah di Kalimantan itu terbuat dari bahan kayu dan kulit pohon yang banyak tiang dan dindingnya yang punya celah untuk mengikat sesuatu. Jika warga mau melihat mayat orang yang meninggal itu, dia harus menyingkapkan hinou tadi. Para penduduk di kampung itu ketika mendengar ada warga yang meninggal, mereka pada pergi melayat ke sana, ada juga sekelompok warga yang berangkat membuat peti mati. Demikianlah warga yang pergi melayat itu dari pagi sampai sore hari, bahkan sampai waktu hiruk-herek, yaitu waktu antara beberapa menit sebelum dan sesudah matahari terbenam. Sementara waktu hiruk-herek ini dipercaya oleh kelompok Dayak Uut Danum sebagai saatnya para arwah keluar dari persembunyiaannya dan gentayangan mencari mangsa, sehingga pada jaman kisah ini terjadi mereka melarang anak-anak masih berkeliaran di tanah pada waktu ini. Pada pertengahan waktu hiruk-herek ini, seorang wanita paruh baya datang melayat ke tempat orang yang meninggal itu. Wanita itu datang dengan memakai sombung (kerudung khas Dayak Uut Danum), yang matanya saja yang tidak tertutup sehingga warga tidak bisa mengenalnya. Dari jauh dia sudah menangis sesungukan dan datang kearah hinou dan menyingkapnya dengan masuk lebih dalam dari kebiasaan orang. Tak lama kemudian, wanita tadi keluar sampil menghapus air matanya kiri kanan dan segera berlalu dari pandangan para pelayat lainnya. Setelah itu, tidak ada lagi yang datang melayat. Beberapa saat setelah masa hiruk-herek itu, orang-orang yang membuat Duni’(peti mati} pun sudah pulang dari dalam hutan. Setelah peti mati sampai, mereka mau memasukan mayat itu ke dalam peti mati, sehingga mereka menyibakan hinou nya. Namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di dalam hinou itu sudah tidak ada lagi mayat anak lelaki itu. Keluarga yang meninggal dan orang-orang yang berada di situ jadi heboh dan kalang kabut. Mereka saling bertanya ke sana kemari, sampai akhirnya mereka mengetahui jika yang terakhir melayat adalah seorang wanita yang memakai sombung. Karena sombung yang dikenakan wanita itu sangat tertutup dan hanya tampak matanya saja, maka tak ada satupun mereka yang mengenal dia. Menurut orang-orang yang hadir di situ dan sudah tua maupun berpengalaman, mereka yakin, jika wanita itu adalah jelmaan siluman. Hanya saja mereka belum tahu siluman apa itu. Akhirnya mereka sepakat untuk mencarinya malam itu juga dan langsung menbentuk beberapa kelompok kearah empat penjuru mata angin. Kelompok orang yang berangkat itu melengkapi diri mereka dengan obor, tolong, puhtuk ahpui, kujur, parang, sumpit dan lainnya serta ditemani puluhan ekor anjing pemburu ulung milik warga. Mereka mencari dalam kegelapan malam, hanya diterangi oleh puhtuk ahpui, obor dan tolong. Setelah mencari ke sana kemari dan sudah cukup jauh dari kampung, salah satu kelompok bertemu dengan sebuah pohon beringin raksasa yang sangat lebat. Lalu anjing-anjing yang mereka bawa, menggonggong keras dengan pandangan ke arah pohon beringin itu. Anggota kelompok saling pandang dan mengangguk mengerti. Beberapa pemuda yang berani mulai memanjat pohon beringin itu dan lainnya menunggu di bawah dengan senjata terhunus. Ketika di pertengahan pohon beringin yang dahannya sangat lebat, dengan penerangan seadanya, mereka bisa melihat seekor musang dengan perut yang sangat besar. Sehingga mereka jadi curiga, bahwa musang itu hamil tidak normal. Ketika melihat rombongan orang itu, sang musang mengeluarkan suara melawan dan bersiap mempertahankan diri seolah akan menyerang mereka. Melihat hal demikian, para pemuda itupun teringat pesan orang tua-tua bahwa musang adalah salah satu binatang yang sering nomalliu (mengubah dirinya) menjadi manusia, sehingga ketika musang menunjukan sikap bermusuhan, merekapun lalu menyerangnya dengan kujur yang mereka bawa dari jarak aman, tetapi tetap berusaha untuk tidak menusuk perutnya. Setelah beberapa saat, akhirnya sang musang pun mati oleh mereka, tetapi perutnya tidak terluka. Kelompok pemuda itupun lalu membawa mayat musang itu turun dengan hati-hati. Sesampainya di tanah, dengan hati-hati mereka membelah perut musang itu. Ketika perut musang mulai terbuka, mereka sangat terbelalak karena dengan jelas mereka bisa melihat mayat anak lelaki itulah yang ada di dalam perutmya. Jadi musang itu telah Nomalliu menjadi seorang wanita dan menelannya ketika pura-pura datang melayat. Rombongan itupun lalu menggali lubang dan menguburkan mayat musang tadi, setelah itu mereka membawa mayat anak lelaki tadi kembali ke kampung. Setelah sampai di kampung, mayat itu dimasukan ke dalam peti mati dan besok harinya lalu dikuburkan seperti layaknya mayat manusia. Di kalangan suku Dayak Uut Danum, mereka sangat hati-hati dengan pelayat yang datang pada saat hiruk-herek jika ada yang kematian anggota keluarganya dan mayat masih belum dikuburkan. Mereka akan teliti memperhatikan apakah yang datang itu ada cerukan di atas bibirnya atau apakah dia mempunyai bayangan, karena menurut para orang tua jika yang datang itu bukan manusia maka dia tidak mempunyai cerukan diatas bibirnya dan juga tidak mempunyai bayangan tubuhnya. Karena khawatir di kelak kemudian hari kejadian serupa bisa terjadi pada mereka dan keturunan mereka. Salah satu cara mereka untuk menghindari hal ini adalah dengan budaya hosirop, yaitu dengan bermain api. Namun pada saat cerita ini terjadi, warga setempat belum sempat mulai melaksanakan tradisi hosirop itu. Penjelasan kata-kata khusus: 1. Hinou : Adalah penutup mayat orang mati, utamanya terbuat dari kain putih yang digantung seperti kelambu dan berbentuk segi empat memanjang dengan tinggi berkisar 60 cm sampai 140 cm dan menutupi seluruh mayat, sehingga tidak terlalu menakutkan bagi yang berkunjung melayat. Jika pelayat masih tetap ingin melihat wajah mayat itu, maka dia bisa menyibakan hinounya untuk sementara dan menutupnya kembali ketika selesai. 2. Duni’ : Peti mati khas suku Dayak Uut Danum. Duni’ini terbuat dari bermacam-macam bahan, diantaranya terbuat dari kayu keras, kayu lembut, dan terkadang juga hanya di bungkus tikar. 3. Sombung : Adalah penutup kepala khas suku Dayak Uut Danum yang terbuat dari kain, yang biasanya dipakai untuk menghindari panas sewaktu kerja ladang seperti merumput atau panen padi, menghindari nyamuk, atau juga supaya tidak dikenali. Biasanya wajah pengguna masih tampak jelas, tetapi rambut dan bagian belakang kepala tertutup. Tetapi ada juga yang hanya tampak matanya saja. 4. Hiruk-herek : Adalah waktu sekitar setengah jam antara sebelum matahari terbenam dan setelah terbenam. Waktu kurang lebih setengah jam ini dipercayai sebagai waktunya para arwah orang mati dan roh jahat bergentayangan mencari mangsa. 5. Tolong : Adalah alat penerangan yang terdiri dari sebuah pelita, tetapi di simpan dalam sebuah pelindung kayu yang di buat segi empat memanjang ke atas, hanya di beri lubang kecil di bagian depan untuk keluarnya cahaya dan lubang pengeluaran asap kecil di bagian atas, sehingga apinya tidak mudah padam meskipun di bawa berlari. Di bagian belakang tolong di beri pegangan bagi yang memakainya agar tidak mudah lepas. 6. Puhtuk ahpui : Adalah ujung kayu api yang masih ada bara apinya, biasanya dijadikan sebagai alat penerangan jika berjalan di malam hari, caranya dengan mengayunkannya ke depan dan belakang sehingga bisa menerangi jalan. Biasanya kayunya dari kayu hotap, yaitu kayu yang khas untuk kayu api, karena kayunya keras, mudah terbakar tetapi baranya tahan lama dan tidak mudah padam. 7. Kujur : Tombak khas suku Dayak, termasuk Dayak Uut Danum. Dalam Bahasa Dayak Uut Danum di sebut Llunju’. 8. Nomalliu : Kemampuan untuk menjelma atau mengubah dirinya menjadi bentuk lain. Hal ini bisa dilakukan oleh manusia maupun binatang. Misalnya manusia menjadi binatang atau sebaliknya binatang menjadi manusia. Bahkan bisa saja manusia mengubah dirinya jadi sebuah tunggul yang tidak bergerak, namun bisa mendengar dan berbicara hanya saja tidak bergerak. 9. Hosirop : Adalah adat atau tradisi main api atau main bola api jika ada kematian di kalangan suku Dayak Uut Danum. Hosirop adalah bermain api atau apa saja agar orang tidak tertidur dan juga mereka percaya jika roh roh jahat sangat takut dengan api. Alat untuk hosirop ini bisa berupa kayu gabus yang direndam minyak tanah seharian, atau buah kelapa tua yang masih ada sabutnya dan juga di rendam minyak tanag seharian, tikar, kain, semut api, pacuh (makanan untuk orang mati), kulit kepuak kering atau rokok yang sengaja di tusukan ke tubuh orang lain, terkadang makanan babi yang sengaja di siramkan ke tubuh orang yang tertidur dan atau apa saja sesuai kreatifitas orang yang ikut hosirop ini sepanjang tidak membahayakan nyawa yang jadi sasaran. Menurut para orang tua, tradisi ini sudah ada di jaman Tahtum, yaitu jaman yang ketiga dikalangan suku Dayak Uut Danum yang terjadi sekitar 3000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 5,000 tahun yang lalu. Tradisi hosirop ini sudah banyak di tiru seantero Nusantara, terutama oleh para karyawan perusahaan logging (kayu bulat) yang pernah bekerja di daerah suku Dayak Uut Danum dan ketika pulang mereka bawa dan tiru di daerah mereka sendiri. ***this content was uploaded to pinterduit.com
Like
Dislike


Related Post

  • Tradisi Perang Meriam Karbit di Kota Pontianak
  • Tarian Barongsai, Tradisi Yang Berusia 2.400 tahun
  • Fakta Ilmiah Mengapa Jenang Baning Dapat Menghilangkan Sawan Nganten (Badan Lemas)
  • Siluman Musang | Cerita Rakyat Mistis Suku Dayak Kalimantan
  • Peti Mati Berselancar Diatas Air Sungai | Kisah Mistis Suku Dayak Kalimantan
  • Kuntilanak Melobangi Perahu.
  • 17++ Fakta Didalam Kisah KKN Di Desa Penari Yang Horror
  • Setelah Nyi Roro Kidul, Kini Ada Akik Nyi Blorong
  • Geger, Ditemukan Batu Giok Zaman Purba [Pecinta Batu Akik]
  • Kisah Nyata Pengalaman 3x Melihat Hantu (Pocong, Nenek-Nenek,Genderuwo)



  • Comment



    no comment yet

    Notice



    New User

    andrey, SiA, Menuju Hidup Lebih Baik, Mus wardam, Kevin Iyan Markus, Suryatiningsih, Tulip99, Angelica Advenia Cittadella, Mainseniyormay, Mainseniyormay, Rafi Al Ghifari, asw, Jakwan Al amin, , Shurijal,